Kamis, 25 Februari 2010

Keindahan Yang Misterius

 Agustus, 2007

Raga yang mengalir indah
Sentuhan nafas dalam satu kekuatan
Tangan-tangan handal dalam setiap hentakan
wujud nyata dari sesosok adam rupawan

Angin lembut dalam pesona wajahmu
Air tenang dalam setiap tingkah lakumu
Bara api dalam setiap ambisimu
Idealisme menjadi bagian dari jiwamu

Misteri keindahan yang kau pancarkan
Aura pesonalitas yang kau dengungkan
Cinta dan misteri kini adalah kesatuan jiwaku
Segala pujianpun ku titipkan padamu

Rabu, 24 Februari 2010

Untitled

 Tahun 2007,


Aku telah mati,
Dalam kesepian dan kemarahan yang diam.
Dalam kesenangan dan kebahagiaan yang semu.
Dalam bayangan masa depan yang penuh fatamorgana.
Tapi itu dulu !

Aku terlahir kembali,
Dengan mengingat sejarah kebenaran.
Sikap frontal dengan penuh kesadaran.
Meskipun impulsif bisa menjadi pilihan.
Bagaimanapun juga ... Kebenaran lahir dari perdamaian setelah peperangan yang panjang.
Dan itu sekarang !

Aku telah hidup,
Dengan pro dan kontra yang masih ada.
Segala pertentangan hati yang masih eksis.
Namun itu manusiawi ... Alami.
Siapapun tak pernah bisa melihat dirinya sendiri secara transparan.
Bagaimanapun juga ... Akal sehat menjadi penanda manusia dengan derajat tingginya.
Dan itu adalah proses !

Kering ....

 Tahun 2007,

Kering ...
Ketidakpatuhan atas segala kebaikan-kebaikan yang telah menjadi doktrin dalam sejarah hidup manusia, membuat  apa yang tampak menjadi terkesan sia-sia.
Akibatnya, kesalahan dan dosa terlihat sebagai keindahan yang disengaja.
Cinta yang dirasa pun menjadi kering ...

Aku tak mencintaimu,
Tapi tampaknya aku mencintaimu.
Sejarah mengajarkan cerita-cerita sendu nan pilu yang menuntut revolusi kehidupan.
Namun doktrin itu seketika menjadi sama saja,
ketika aku untuk kesekian kalinya mengecap paradoks-paradoks realita yang pada akhirnya menawarkan kekeringan.

Aku menawarkan kemandirian yang pantas bagiku,
Tapi dikehidupan sekitar tak ada catatan-catatan itu.
Aku lelah dengan idealisme-idealisme yang tak pandai bersekutu dengan realita yang tersedia.
Dan pada akhirnya, seorang manusia menjadi muak dengan segala kenikmatan yang sudah menjadi stigma sepanjang hidupnya.

Minggu, 21 Februari 2010

Dancing Fountain ; Hiburan Yang Murah


Pernah jalan-jalan ke Monas pada Sabtu dan Minggu malam ? Mungkin sebagian besar anak muda Jakarta sudah melupakan tempat itu. Café, Mall, Twentyone, atau tempat nongkrong lainnya masih banyak yang lebih menarik sehingga para anak gaul ini memilih untuk menghabiskan waktu disana. Tapi seandainya mereka mau mengunjungi Monas pada waktu-waktu tersebut, sekali saja, mungkin mereka akan berpendapat lain. Well, perhaps
Saya tidak akan berkata seperti ini jika saya belum pernah kesana. Awal tahun lalu tepatnya. Mendengar kata ‘Monas’ memang sudah menjadi hal biasa, begitupun halnya saya. Tetapi seorang teman merekomendasikan ‘Monas’ saat dia tahu saya sedang jenuh dengan rutinitas biasanya. “Ada air mancur menari lho disanaBelum pernah liat kan?”,  katanya. Dan saya pun menjawab dengan senyum lega, “Hmm, boleh juga”.
Jadilah kami kesana. Setelah sekian lama tidak masuk kedalam lingkungan Monas dan ketika kembali lagi ada perasaan yang berbeda disana. Mungkin memang benar, perasaan terbiasa dengan suasana glamour ataupun tempat-tempat yang cozy dengan lampu-lampu mewah, musik lembut yang menggoda, serta aroma makanan lezat, membuat saya dan sebagian orang terhipnotis dengan pesonanya. Tetapi saat itu, ketika saya melangkahkan kaki dalam pekarangan Monas, saya merasa benar-benar … Tenang.
Pukul 19.00.
Pertunjukkan air mancur menari pun dimulai. Pemandangan yang sangat baru bagi saya. Pada dasarnya saya sangat menyukai pantai, laut, ombak, air terjun, kolam renang, dan segalanya tentang air. Dan air mancur ? saya baru saja menyukai itu. Dikemas dengan alunan lagu tradisional (Dangdut dan lagu Betawi) dan tembakan cahaya berwarna warni yang berasal dari proyektor dalam ruang khusus bawah tanah. Air mancur menari mengikuti alunan lagu. Gerakan yang lincah dan semakin bersemangat ketika diiringi dengan lagu dangdut. Hmm, saya bukan penggemar dangdut, namun menyaksikan pertunjukkan itu cukup membuat saya tersenyum-senyum. Tapi tidak serta merta membuat saya beralih menyukai musik dangdut tentunya.
Hiburan ini cukup menyenangkan, pikirku. Suasana yang sangat bersahabat karena ternyata setelah saya perhatikan disekeliling sebagian besar pengunjung adalah keluarga yg cukup komplit yang sedang piknik di rerumputan. Pedagang makanan keliling serta pedagang mainan anak-anak membuat tempat itu semakin ramai saja. Tapi tak masalah, selama tak ada pengamen disana. Dan hey … Memang tak ada satupun pengamen disana! Ha ha … Saya suka sekali. Dan yang paling penting adalah … Hiburan ini gratis.
Pertunjukkan itu hanya berlangsung selama kurang lebih 15 menit dan diulangi lagi persis di pukul 20.00. Well, cukup lega menyaksikan itu. Dan tak ada salahnya jika kapan-kapan berkunjung kesana lagi. Gratis. Dan tak hanya ingin melihat air mancur menari, sekedar berjalan santai dan duduk menikmati malam bisa sejenak membuat saya cukup rileks. Tak hanya kalangan menengah ke bawah saja lho yang ada, tetapi saya memperhatikan beberapa keluarga dari kalangan atas pun tak sungkan datang kesana. Hiburan gratis ditengah kota metropolitan Jakarta.
Then you know what? Salah satu Mall besar yang ada di pusat bisnis Jakarta pertengahan tahun lalu membuat design air mancur menari di bagian lobi-nya. Manager operasionalnya mengakui bahwa air mancur menari itu HANYA satu-satunya yang ada di Indonesia. What ?! Hmm, dimaklumi. Mungkin saja ia belum pernah mengunjungi Monas. Atau mungkin juga ia tak pernah mendengar ada hiburan yang sama di Monas. Atau mungkin juga ia tak punya teman-teman yang tertarik untuk datang ke Monas sehingga ia tak mendapat info apapun. Atau … strategi market untuk membuat rating naik apalagi mayoritas orang yang tinggal di Jakarta lebih senang mencuci mata di Mall. Tetapi akan yang menjadi pemikiranku ialah akan lebih baik jika dancing fountain diliput langsung dari Monas. It’s simple, jika hiburan itu di informasikan kepada warga Jakarta, hal itu pasti akan mengangkat citra Monas kembali menjadi tempat hiburan keluarga yang menyenangkan. Dulu Monas kehilangan citra-nya ketika tempat itu dijadikan arena mesum dan kriminalitas. Tetapi dengan adanya hiburan tersebut dan dipublikasikan lebih luas, saya pikir akan sangat membantu menjadikan Monas icon kota Jakarta yang tak pernah mati dari masa ke masa. Dan perlu diketahui, keamanan Monas sekarang ini sudah dikelola dengan baik. Jadi, mulailah menjadikan Monas sebagai salah satu daftar kalian untuk bersantai dengan keluarga. It’ll be fun !

Rabu, 17 Februari 2010

Penampilan Islami = Lebih Baik. Benarkah ?


Sebagian besar orang Muslim mengatakan bahwa seorang wanita Muslimah harus menutupi tubuhnya dengan pakaian tertutup secara keseluruhan alias berjilbab/berkerudung. Anggapan ini memang tidak salah, karena begitulah kiranya peraturan yang ada dalam Islam. Tujuannya untuk melindungi perempuan, begitulah kira-kira. Dan saya pun sering sekali mendapat himbauan atau teguran atau peringatan atau ultimatum atau apalah jenisnya, untuk memakai jilbab. Tapi saya menolak. Bukan karena saya tidak setuju dengan peraturan agama itu, tetapi lebih karena kenyamanan hati saya.
Dulu saya sempat memakai penutup kepala perempuan islami itu, ketika saya sedang kuliah di salah satu universitas swasta Islam di Yogyakarta. Well, namanya juga universitas Islam, jadi peraturan yang ditetapkan adalah setiap mahasiswi yang kuliah disana WAJIB menggunakan jilbab saat berada dilingkungan kampus. Alhasil, beberapa teman saya yang beragama Budha, Hindu, dan Kristen yang kuliah di sana pun memakai jilbab. Tidak masalah bagi mereka. Karena itu hanyalah peraturan.
Tapi yang menjadi persoalan selanjutnya adalah ketika setiap individu perempuan tidak ‘memaknai’ jilbab tersebut sesuai dengan apa yang seharusnya. Sesuai dengan apa yang diinginkan oleh agama itu sendiri. Karena peraturan yang ada sudah jelas yaitu memakai pakaian tertutup (Islami) dan berjilbab, banyak mahasiswi pun berpenampilan serta tampil “apa adanya”. Asal badannya tertutup pakaian dengan memakai baju lengan panjang dibarengi dengan celana/rok panjang, dan asal rambutnya tertutup dengan kain panjang, tidak masalah. Benarkah ?!
Kenyataannya banyak mahasiswi yang memakai pakaian ketat atau ngepas di badan yang jelas-jelas memperlihatkan 2 tonjolan yang ada di depan dada, dan juga poni lempar yang sedikit keluar dari kerudung mereka. “Ini style. Biarpun berjilbab harus tetep modis dong!. Lagipula ini kan cuma peraturan dikampus doang, ya udah turuti aja. Habis kuliah juga bisa dilepas lagi jilbabnya”. Hmm, saya pun dulu berpenampilan seperti itu, jadi saya juga tahu bagaimana “rasanya” punya style seperti itu. Dan boleh di cek kebenarannya, di seluruh kampus Islam pasti memiliki mahasiswi seperti ini. Dengan kata lain, suatu peraturan tidak bisa memaksa seorang perempuan Islam untuk memakai jilbab secara total !
Persoalan penampilan hanyalah masalah lain. Menurut saya hal yang lebih penting dan bermakna untuk dijadikan alasan seseorang ingin memakai jilbab adalah kebersihan hati dan tanggungjawabnya terhadap jilbab yang ia kenakan. Seorang perempuan yang sudah memutuskan ingin berjilbab sudah paham bagaimana beban dan tanggungjawab yang akan ia pegang. Tidak mudah lho memakai jilbab itu. Karena secara pikiran, hati, dan tingkah laku harus benar-benar disesuaikan dengan penampilan Islami-nya. Sederhananya, ia harus memiliki hati dan perilaku yang baik !
Inilah makna dari tanggungjawab jilbab/kerudung yang sebenarnya dalam Islam. Tetapi sayangnya banyak perempuan berkerudung yang saya kenal tidaklah seperti itu. Dengan penampilan Islami yang mereka tampilkan justru membuat mereka cenderung meremehkan perempuan-perempuan lain yang tidak berjilbab (saya pun pernah mengalami hal itu). Bahkan orang-orang seperti ini ada yang berperilaku lebih ekstrim dengan membuang ludah atau memandang rendah terhadap orang-orang non-Muslim. Sikap kasar tersebut biasanya saya perhatikan berasal dari perempuan Muslim yang memakai pakaian yang tertutup secara keseluruhan dan menggunakan cadar diwajahnya. Pakaian khas orang Arab. Ironis sekali. Dan maaf saja, saya tidak respek terhadap orang-orang Muslim dengan karakter seperti itu. Saya sama sekali tidak takut ataupun minder ketika berhadapan dengan orang-orang seperti itu, justru semakin membuat pikiran saya terbuka tentang cara berpikir saudara-saudara Muslim yang lain.
Kembali kepada kebersihan hati. Jilbab hanya akan menjadi selembar kain yang tidak bermakna sama sekali jika pemakainya tidak merepresentasikan akhlak yang baik atas jilbab itu. Buat apa berjilbab kalau akhlaknya buruk ? Buat apa menutupi aurat kalau secara sembunyi-sembunyi mereka masih menonton film porno, bahkan menjadi aktris dalam film porno buatan sendiri itu ? Saya pernah melihat film porno (video mesum – red.) yang pelakunya adalah perempuan yang memakai jilbab. Tak perlu munafik lah. Hampir semua orang laki-laki ataupun perempuan, anak-anak, remaja dan orang dewasa yang belum menikah, pernah menyaksikan tayangan porno. “Hare genee …!”.
Kembali kepada hati ! Sekali lagi saya tegaskan.
Pun masih banyak perempuan berjilbab yang senang bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain, merasa diri yang paling benar, memfitnah orang lain, mencuri, dan bla bla bla bla. Tak pantas ! Itu bukan representasi dari keanggunan sebuah jilbab dalam Islam. Tetapi masih banyak sekali perempuan berjilbab yang belum memperbaiki hati dan attitude-nya namun bangga dengan penampilan auratnya yang tertutup. Kasihan. Iba. Sayang sekali.
Well, itu alasan utama saya masih menolak untuk memakai jilbab. Sepenuhnya saya menyadari bahwa saya masih punya banyak kekurangan secara hati dan perilaku. Pasti ada yang berargumen, “Kalo gitu rubah dong hati dan tingkahlaku lo, sambil memakai jilbab juga nggak apa-apa kok!”. Semua orang pasti berusaha untuk menjadi lebih baik setiap hari, itu yang sedang saya lakukan sekarang. Tetapi untuk memakai jilbab ? Saya belum tertarik.
Sesungguhnya jilbab dan atribut Islamiah lainnya yang sering kita lihat digunakan oleh banyak orang Islam laki-laki maupun perempuan hanyalah bersifat simbolis saja. Itu menurut pendapat pribadi saya. Dari sejak zaman dahulu kala bahkan hingga sekarang, penduduk dikawasan Timur Tengah memakai baju panjang dan tertutup (gamis), kerudung dikepalanya, dan cadar untuk menutupi wajahnya. Bukan karena mereka semua adalah penganut Islam, tetapi karena kawasan itu adalah daerah yang memiliki iklim panas yang tinggi. Ditambah lagi dengan kondisi alam yang berpasir karena sebagian besar daerah disana adalah gurun pasir. Orang-orang Israel, Yahudi, Mesir, yang notabene mayoritas non-Muslim memiliki penampilan seperti ini. Tidak hanya orang Arab. Karena agama Islam lahir di daerah Arab, sehingga peraturan yang ada pun disesuaikan dengan kondisi di sana.
  Lagipula Islam pun sebenarnya melarang hal-hal yang bersifat berlebihan termasuk soal penampilan, bahkan jika penampilan yang kita miliki digunakan untuk meremehkan orang lain. Dan cenderung memaksakan kehendaknya kepada orang lain untuk mengikuti penampilannya. Itu tindakan dan pola pikir yang sangat salah.
Well, apapun cerita dari sejarah kerudung ataupun alasan yang dimiliki seorang perempuan yang memakai kerudung/jilbab, semuanya kembali kepada HATI. Sudah bersih kah hati kita ? Sudah layakkah kita berjilbab dengan kualitas perilaku yang kita punya ? Sudah sanggupkah kita mengemban “beban” yang ada ketika berjilbab ?
Seorang perempuan berjilbab harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi perempuan Muslimah yang lain, jika ingin menarik hati mereka untuk memakai jilbab. Sekian. 

Selasa, 12 Januari 2010

-KNOWING- Kiamat itu ulahku

Sangat puas setelah menikmati film yang smart dan berkualitas. Dan itu adalah pendapat saya setelah nonton film ini. Bagi para penikmat film, hal ini pasti akan menimbulkan persepsi sendiri mengenai hakekat kiamat itu sendiri, baik dari segi science, religion, maupun prophecy. Semua orang percaya atau setidaknya semua manusia telah di doktrin untuk meyakini bahwa kiamat itu adalah akhir dari kehidupan di dunia. Kiamat itu adalah hari pengadilan akhir yang ditentukan oleh Tuhan yang menciptakan manusia itu. Tuhan semesta alam. Tuhan pencipta segala kehidupan di muka bumi. Tuhan yang diyakini sebagai Raja di atas Raja. Dan Tuhan yang akan selalu kekal meskipun hari kiamat itu tiba. Tapi satu hal yang paling penting adalah semua manusia diwajibkan percaya bahwa kiamat itu ada dan akan tiba waktunya, sesuai dengan keinginan Tuhan, dan tak ada satu manusia pun yang tahu. Hanya Tuhan.

Disinilah persoalannya. Setiap manusia di doktrin untuk percaya bahwa kiamat itu terjadi karena semakin banyaknya angka “dosa” yang dilakukan setiap manusia yang hidup di dunia, menurut perhitungan Tuhan. Kiamat itu adalah batas akhir kemurkaan Tuhan terhadap manusia. Dan hanya dengan satu kali perintah, Tuhan menghancurkan bumi, meletuskan semua gunung yang ada di permukaan bumi, meretakkan tanah-tanah dan menyedot setiap manusia masuk kedalam perut bumi, serta mengirimkan matahari sehingga berjarak hanya satu jengkal diatas kepala setiap manusia. Gambaran yang sangat mengerikan bukan ? setidaknya itulah hal yang dapat kita pelajari dari orang tua maupun buku-buku.

Tapi bagi para ilmuwan pemikir atau para scientist, tidaklah demikian. Terlepas dari pilihan keyakinan mereka, setidaknya ada penjelasan ilmiah ataupun penjelasan logis mengenai hakekat kiamat itu sendiri. Well, setiap manusia diberi berkah untuk dapat berpikir tentang hidup dan kelangsungan alam bukan ? Tuhan menciptakan bumi dan seluruh isinya secara “mentah”, dan manusialah yang meneruskan, menjaga, serta mengembangkannya. Hal inilah yang menarik untuk saya bahas disini.

Bumi kita telah terbentuk dari beratus-ratus jutaan tahun yang lalu. Para ilmuwan mengatakan bahwa bumi ini berasal dari partikel-partikel kecil yang terakumulasi sehingga terbentuklah seperti yang kita tempati di masa kini. Bukan bidang saya untuk meneliti tentang itu, tapi saya bisa mempelajari dan sedikit memahami tentang asal muasal terbentuknya bumi kita tercinta. Dan tulisan ini bukan untuk membahas mengenai komposisi maupun sejarah keilmuan terciptanya bumi, tapi saya hanya ingin memberikan pendapat saya mengenai bagaimana kiamat itu dapat terjadi dari sisi pemikiran saya yang sekiranya dapat dipahami secara logis menurut batas pemikiran manusia.

Hummm, beberapa tahun terakhir ini kita sangat dekat dengan istilah Global Warming ataupun Climate Change. Saya tak perlu memberikan perincian detail tentang definisi maupun faktor-faktor penyebab terjadinya kedua fenomena alam tersebut, karena pembahasan itu akan semakin memperpanjang tulisan ini (membosankan – red.). Lagipula saya yakin teman-teman pembaca sudah memahami tentang itu. Sebagian orang mengatakan bahwa musibah ataupun bencana alam yang sudah terjadi merupakan tanda-tanda bahwa kiamat itu sudah dekat. Bahwa Tuhan sudah semakin marah dengan manusia sehingga memberikan peringatan-peringatan semacam itu. Tetapi teman saya seorang Pastur mengatakan pendapatnya bahwa ketika seseorang meninggal dunia, itulah yang dinamakan kiamat. Menarik untuk saya sekaligus juga menyetujui pendapatnya. Saya setuju karena kiamat adalah saat berakhirnya kehidupan yang ada di dunia. Ketika seorang manusia meninggal, kehidupannya di dunia pun berhenti. Dan bagi saya, hal itu benar. Tetapi itu dari segi spiritualitas diri.

Kembali kepada kiamat dalam pengertian science. Tiba-tiba saya berpikir bahwa kiamat itu adalah ulah sang manusia sendiri. Begitulah kira-kira. Banjir besar yang melanda sebagian besar penjuru dunia, tanah longsor terjadi dimana-mana, sampai pada lapisan ozon yang rusak akibat ulah dari pelaku industri besar yang notabene manusia juga yang menjalankan. Sangat ironis karena ketika kita berpikir kenapa semua itu dilakukan tak lain karena alasan ekonomi. Well, semua orang butuh level ekonomi yang cukup bagi hidupnya. Bahkan setiap orang saling ketergantungan dalam menjalani siklus itu. Lalu siapa yang harus disalahkan ? Manusia memang. Tetapi apakah semuanya akan berjalan baik-baik saja jika kita melakukan sedikit “perbaikan” ? Mungkin iya. Tapi mungkin saja tidak. Karena bumi ini sudah rapuh. Bumi ini sudah terkontaminasi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu dan ia terendap dalam kesakitan yang telah sampai pada tahap hampir kritis.

Kasihan bumi kita. Ia butuh inpus lebih banyak. Ia butuh dokter yang senantiasa merawat ketika penyakitnya kambuh. Tetapi kesehatan itu mahal harganya. Jika kita tak ingin sakit, maka jangan sakit ! Dan itupun berlaku bagi bumi kita. Jika tak ingin bumi kita rapuh dan rusak, maka jagalah ia ! Karena kesehatan bumi kita sangat mahal harganya. Kerusakan infrastruktur karena banjir, tanah longsor, gempa, sangat merugikan bukan ? Kehilangan nyawa manusia pun tak bisa digantikan dengan budget berapapun nominalnya. Konferensi Iklim yang dilakukan secara besar-besaran dan berkali-kali dilaksanakan, pun telah mengeluarkan dana yang sangat besar.

Sangat mahal. Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk mendapatkan kembali kesehatan bumi kita sangat mahal. Dan ketakutan setiap manusia akan datangnya bencana yang lebih besar semakin terasa. Syndrome 2012 tak mempengaruhi saya. Tetapi pada akhirnya kematian akan datang kepada kita semua. Dengan cara apapun yang ia mau. Dan saat ini saya lebih mempercayai bahwa kiamat itu adalah kematian diri saya. Kematian tubuh saya. Tetapi kalaupun benar kiamat itu diartikan dengan hancurnya bumi, maka itu karena ulah manusia sendiri. Ulah kita sendiri.

Tololnya Diriku

Aku lelah. Aku muak. Inilah batas tertinggi kesabaranku atas ketololan diri sendiri. Atau ke-tidak beruntung-an hidup. Atau apalah itu namanya. Aku merasa …. Tak punya arti apapun dalam menjalani hidupku sendiri. Terlalu polos, terlalu nrimo, terlalu “lurus”, terlalu idealis, terlalu lemah dan terkesan tak berdaya ketika persoalan datang, terlalu “miskin” perubahan, terlalu …., terlalu …., dan terlalu lainnya.

Aku membenci diriku sendiri. Atas kesombongan-kesombongan yang menjebak diri dan pikiranku sendiri. Aku lebih memilih untuk menjadi orang yang beruntung daripada terjebak dengan gelar “orang pintar” ini. Tetapi sayangnya aku bukan orang yang beruntung. Atau mungkin saja di masa sekarang ini, keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku. Hmmmm.

Terlalu berharap akan pertolongan Tuhan. Itu ketololan lain atas sikap “terlalu” ini. Aku belajar mendekatkan diri dan lebih memahami akan Tuhan dengan harapan bahwa Ia akan (dengan) segera mengabulkan permohonan-permohonanku. Tapi aku salah besar kali ini. Tiba-tiba tersadar bahwa dengan belajar mengenal Tuhan, aku harus “fokus” pada proses pembelajaran ini, bukan pada hal-hal yang bersifat duniawi dulu. Maksudnya, jika merasa “baru” mengenal Tuhan jangan serta merta bersikap “tak tahu diri” merepotkan Tuhan atas permintaan-permintaan duniawi. Tuhan pun akan tertawa karena ketololan ini. Dan mungkin Tuhan akan berkata, “tak ada yang gratis didunia ini, bodoh!. Kau harus mengenal dan mencintaiKu lebih dalam lagi sebelum aku mempertimbangkan untuk menjadikanmu salah satu manusia yang LAYAK dikabulkan setiap doa-doamu. Perbanyak dulu ibadah kepadaKu dan tingkatkan dulu keimananmu, sebelum kau datang lagi kepadaKu dengan permintaan-permintaanmu itu!”. Hmmm. Kurang lebih seperti itulah. Tapi …. Mungkin juga Tuhan tidak akan berkata seperti itu, karena Tuhan Maha Pengasih dan terlalu mencintai umat-umatNya sehingga Ia selalu luluh jika ada (seorang) umatNya yang sedang kesusahan. Mungkinkah seperti itu? ha ha ha … lucu sekali. Aku hampir menjadi seperti orang gila jika terus bersikeras memikirkan tentang apa yang Tuhan pikirkan mengenai diriku. Ketololan yang lain.

Lalu apa yang salah dengan diriku? Entahlah. Aku belum menemukan jawabannya. Apakah aku memang sudah ditakdirkan “sial” seperti ini? Atau aku harus merubah hidupku? Hanya dengan merubah hidup? Apakah itu bisa jadi patokan? Aku tak akan pernah tahu jika tak mencobanya dulu. Jadi …. Aku harus merubah diri secara keseluruhan!!!