Rabu, 19 Mei 2010

Nyut. Nyut. Nyut ....


Nyut. Nyut. Nyut. Nyut…..
Bangun pagi ini kepala rasanya pusing berdenyut. Penyakit lama yang kerap muncul jika aku merasa stress. Gosh …. I hate this feeling ! Sedih rasanya ketika bangun dipagi hari dan langsung menyadari bahwa kamu akan menghadapi sesuatu yang menyedihkan. Untuk jangka panjang. Yep, that’s what I feel now …. Hurable
Mungkin segelas besar coklat panas akan sangat membantu…”. Sambil menunggu indikator pemanas airku menjadi warm, aku pun mulai menyalakan laptop kesayanganku. Rutinitas setiap pagi mengecek email yang masuk dan offline message dari teman-teman.
I miss him already…”. Menggelisahkan jika mengingat percakapan semalam bahwa Lelakiku akan pergi keluar kota untuk ditugaskan disana. Nggak tanggung-tanggung, daerah Timur mendekati ujung Indonesia yang menjadi tujuannya. Well, sekitar 1 atau 2 bulan lagi keberangkatannya. Aku cemas sekali. What can I do without him, here, beside me ? Selama 2 tahun ini aku memiliki keberanian tinggal di kota metropolitan ini karena ada dia disampingku. Melindungiku. Dan ketika dia pergi nanti ? Untuk kontrak kerja yang tidak sebentar ? God …. I can’t imagine how’s my life would be ….   
Aku masih menangis ketika membicarakan hal itu lagi.
Aku ga bisa menjalani long distance relationship babe …!. Kamu tahu aku ga bisa. Aku khawatir sekali. Aku ga mau terulang lagi …”.
Yeah, trauma. Mungkin itu penyebabnya aku panik seperti ini. Well, humm, tidak juga … Waspada sih lebih tepatnya. Nggak mau kecolongan lagi. Nggak mau menyia-nyiakan waktu. Humm, sudah terbiasa selama 2 tahun intens bertemu terus jadi aku nggak bisa jauh dari dia. Atau … Aku nggak mau pisah ditengah jalan karena berjauhan !
And yep ! Aku trauma !!!  Gosh ……
Sedikit terobati ketika mendengar penjelasan Lelakiku. “Job ini kesempatan yang baik buat aku sayang ... Penghasilan yang aku dapat dari ini besar. Ini untuk kita juga. Kita udah punya target menikah kan ? kita bisa menabung banyak. Lagipula aku akan sering balik ke Jakarta. Barang-barang dan tempat tinggalku masih disini … Kamu juga ada disini … ”. Well, setiap perempuan juga pasti akan senang mendengar kata “gaji besar”, “tabungan banyak”, dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan uang. Nggak dipungkiri sih, menikah dengan kondisi memiliki tabungan yang “sudah” banyak akan sangat menyenangkan. Tapi apa dengan harus berjauhan ? Ughh, I can not thinking !
Aku bakal kepikiran terus nih …”. Atau, aku harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum hari keberangkatan itu ? Humm, mungkin untuk sementara begitu dulu.
Singing : Dear God, the only thing I ask of You is to hold him when I’m not around. When I’m much too far away …. We all need that person who can be true of  you ….*
Ugghhh, I’m gonna miss him a lot !  :-(

Rabu, 03 Maret 2010

HAM Vs Implementasi UU Hukuman Mati


Agustus, 2008


“Wacana tentang eksekusi mati telah menjadi kontroversi sejak lama. Setiap pihak yang pro dan kontra telah menjadikan  hal ini polemik yang sekaligus membuka pikiran sebagian masyarakat untuk turut memberikan sumbangsih pendapat, keinginan dan harapan mereka mengenai eksekusi mati ini”.

 Berbicara tentang eksekusi mati tentu tak lepas dari Hak Asasi Manusia. Sangat menarik untuk menyimak berbagai apresiasi yang ditunjukkan oleh para pihak yang pro maupun yang kontra mengenai ini. Sederhana saja, eksekusi mati dianggap oleh sebagian orang sangat bertentangan dengan HAM (UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia) karena mengambil hak hidup seorang manusia secara sengaja dengan Undang-undang sebagai justifikasinya (UU tahun 1964 tentang tembak mati). Saya termasuk orang yang sangat menentang hukuman mati itu. Pertimbangan dalam melaksanakan hukuman mati seharusnya tidak hanya di kaji dari aspek hukum pidana dan sekedar mengimplementasikan apa yang telah ditulis oleh Undang-undang semata, tapi juga harus mempertimbangkan aspek moralitas dan hak hidup setiap manusia yang paling hakiki (hanya Tuhan yang berhak memutuskan jalur hidup setiap manusia). Dan meskipun dengan alasan apapun, saya lebih setuju bahwa hukuman penjara seumur hidup sudah merupakan hukuman pidana yang paling tinggi yang dapat memberikan efek jera, karena merampas kebebasan orang dari lingkungan sekitarnya adalah lebih baik daripada merampas kebebasan seseorang untuk hidup di dunia. Kalau dari bahasa sederhananya, setidaknya dengan kesempatan hidup meskipun dengan penjara seumur hidup bisa memberikan kesempatan kepada para pelaku kejahatan untuk memperbaiki diri secara spiritual (setidaknya sebagian napi terbukti lebih “dekat” dengan Tuhan setelah di dalam penjara daripada ketika mereka masih bebas), daripada dengan segera mencabut nyawa mereka tanpa memberikan kesempatan untuk bertobat. Setiap manusia memiliki hak dasar untuk memperbaiki diri lahir dan batin bukan ?
Berbicara mengenai efek jera. Saya pikir dengan adanya hukuman mati tidak serta merta menghapus atau meminimalisir kejahatan yang terjadi seperti narkoba, pembunuhan berantai, dan lain-lain. Karena bukan hukuman mati yang ditakuti para pelaku kejahatan  melainkan rasa takut untuk kelaparan atau kekurangan ekonomi, kehilangan seseorang, melindungi diri sendiri, maupun alasan-alasan lain yang dipikirkan seorang pelaku kejahatan pada saat itu untuk menyelamatkan dirinya sendiri daripada memikirkan akibat atau konsekuensi yang akan dihadapi pelaku tersebut. Sehingga kejahatan akan selalu ada di negara Indonesia ini selama rakyatnya belum sejahtera, aman, dan tentram. Mengingat motif utama seseorang membunuh, atau merampok, ataupun menjual narkoba sampai pada korupsi sekalipun adalah EKONOMI. Jadi harus berapa banyak narapidana lagi yang harus di “bunuh” dengan alasan merugikan orang banyak, dibanding dengan kelalaian negara untuk melindungi dan meningkatkan taraf hidup seluruh warga negaranya? Sedangkan negara memiliki kewajiban penuh untuk melindungi dan mempertahankan hak hidup warga negaranya. Sungguh ironis memang, dengan keadaan seperti ini, saya berpendapat bahwa justru negara yang dalam hal ini pemerintah, adalah pelanggar HAM terberat, karena selain gagal menyejahterakan rakyatnya, juga dengan sengaja mengambil hak hidup seseorang. Pemerintah memang pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan, tetapi bukan berarti tanpa mempertimbangkan setiap detail aspek yang terdapat didalamnya.
Hmm, pasti akan ada yang berpendapat bahwa seorang koruptor lah yang paling pantas mendapatkan hukuman mati. Alasan yang paling masuk akal ialah karena seorang koruptor sudah merampas uang rakyat banyak demi keuntungan dan kekayaan pribadi. Memang itu menjadi alasan yang tepat untuk ia mendapatkan hukuman yang sangat berat, tetapi menurut saya hukuman yang paling pantas adalah hukuman seumur hidup (pertimbangan usia seorang koruptor biasanya mulai dari 40 tahun-an), dan ditambah lagi dengan menyita aset dan kekayaan pribadinya yang disesuaikan dengan jumlah dana yang dikorupsi. Jika masih kurang, akan menjadi urusan keluarganya mencari sisa dana tambahan untuk menutupi kekurangan kepada negara. Si koruptor menghabiskan sisa hidupnya dipenjara hingga menghadapi kematiannya sendiri, bahkan keluarganya pun turut repot untuk mencari uang pengganti. Rasa malu seumur hidup, kekayaan habis, itu akan menjadi hukuman yang paling berat selama hidupnya. Dan yang pasti ia tak akan bisa memfasilitasi dirinya sendiri dengan peralatan mewah di penjara. Apa yang harus si koruptor lakukan ? Hanya banyak sembayang dan berdoa supaya dosa-dosanya diampuni sebelum umurnya habis. Itu saja. Dan jika jenis sanksi berat seperti ini sudah diterapkan kepada SATU ORANG KORUPTOR SAJA sebagai contoh, kemungkinan besar orang-orang yang bergelar koruptor ‘tersembunyi’ lainnya bisa memikirkan lagi perilaku mereka.
Kembali pada perdebatan tentang hukuman mati tadi, saya sangat tidak setuju dengan statement Henry Yosodiningrat dalam acara Debat yang ditayangkan di salah satu stasiun tv swasta pada tanggal 23 juli 2008. Bung Henry mengatakan bahwa eksekusi dengan tembak mati adalah cara yang “santun” dalam melaksanakan hukuman tersebut. Dengan alasan bahwa tembak langsung kearah jantung atau kepala daripada digantung, adalah cara yang “santun” karena orang yang dieksekusi tidak merasakan penderitaan atau sakit yang berkepanjangan. Saya kira ini adalah statement yang sangat tidak pantas di ucapkan, karena dengan metode apapun yang digunakan, alasan apapun cara hukuman mati tetap tidak bisa dibenarkan meskipun dengan pertimbangan implementasi undang-undang negara sekalipun. Toh sebuah Undang-undang dibuat oleh manusia, direvisi serta dapat juga dibatalkan oleh manusia, dan setiap manusiapun tak ada yang sempurna.
Para praktisi hukum pidana dan para praktisi HAM tentu memiliki pendapat yang sangat kontradiktif mengenai perdebatan ini. Dengan alasan bahwa pelaku kejahatan yang membunuh korban melakukan pelanggaran HAM, sehingga harus membayar dengan cara yang sama, terlihat ada semangat balas dendam disitu. Dilain pihak juga dapat timbul tanggapan bahwa pemerintah memberikan serangan balik kepada para pelaku kejahatan dengan memberikan hukuman mati. Sehingga tidak akan pernah efektif karena motif atau alasan para pelaku untuk membunuh berbeda-beda. Hukuman mati bertentangan dengan konstitusi yaitu hak untuk hidup adalah hak yang tidak boleh dikurangi oleh siapapun dan dengan alasan apapun. Dan negara sebagai subjek yang memiliki otoritas tertinggi dalam melaksanakan Undang-undang seharusnya benar-benar memahami itu. Artinya pemerintah harus mengkaji kembali mengenai Undang-undang yang sangat jelas saling bertentangan satu sama lain. 
Pada akhirnya, setiap negara mempunyai alasan dan pertimbangan sendiri untuk tetap mempertahankan ataupun menghapus hukuman mati. Bagaimanapun juga negara yang menerapkan hukuman mati selalu menilai bahwa itulah hukuman setimpal dan hukuman yang paling berat bagi seorang pelaku kejahatan. Dan negara yang masih memiliki sensitifitas terhadap nilai-nilai luhur Hak Asasi Manusia pasti akan menerapkan hukuman seumur hidup sebagai gantinya. Dan saya sangat mendukung jika negara kita menghapus saja metode hukuman mati, dan mulai meratifikasi Kovenan Internasional Hak-hak Sipil (ICCPR) dan Second Optional Protocol of ICCPR, tentang penghapusan hukuman mati. Negara Indonesia melalui wakil-wakilnya di panggung internasional aktif menyuarakan peningkatan harkat dan martabat manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia, namun realisasi didalam negeri tidak menunjukkan hal itu. Bagaimanapun juga metode hukuman mati adalah metode hukum “primitif”, pemerintah harus membuka mata dan pikirkan mengenai penghapusan hukuman mati sekarang juga.     

Selasa, 02 Maret 2010

Cinta Vs. Persahabatan

 September, 2007

Cinta dan persahabatan,
Takkan pernah bisa berjalan beriringan.
Dimana dua insan mencoba untuk menepis rasa,
Demi sebuah persahabatan ...

Rasa takut kehilangan satu sama lain,
Yang disebabkan oleh cinta.
Dan persahabatan pun dipilih,
Demi keabadian ...

Sampai kapan ini bertahan ?
Mungkin sampai cinta bisa memberi jaminan,
Bahwa ia takkan pernah menyakiti,
Ia takkan pernah mengecewakan,
Ia takkan pernah memberi luka,
Dan ia takkan pernah meminta tangis.

Dan jika saat itu tiba,
Aku akan berani mengatakan,
"Sahabatku ... Aku mencintaimu".

Kamis, 25 Februari 2010

Keindahan Yang Misterius

 Agustus, 2007

Raga yang mengalir indah
Sentuhan nafas dalam satu kekuatan
Tangan-tangan handal dalam setiap hentakan
wujud nyata dari sesosok adam rupawan

Angin lembut dalam pesona wajahmu
Air tenang dalam setiap tingkah lakumu
Bara api dalam setiap ambisimu
Idealisme menjadi bagian dari jiwamu

Misteri keindahan yang kau pancarkan
Aura pesonalitas yang kau dengungkan
Cinta dan misteri kini adalah kesatuan jiwaku
Segala pujianpun ku titipkan padamu

Rabu, 24 Februari 2010

Untitled

 Tahun 2007,


Aku telah mati,
Dalam kesepian dan kemarahan yang diam.
Dalam kesenangan dan kebahagiaan yang semu.
Dalam bayangan masa depan yang penuh fatamorgana.
Tapi itu dulu !

Aku terlahir kembali,
Dengan mengingat sejarah kebenaran.
Sikap frontal dengan penuh kesadaran.
Meskipun impulsif bisa menjadi pilihan.
Bagaimanapun juga ... Kebenaran lahir dari perdamaian setelah peperangan yang panjang.
Dan itu sekarang !

Aku telah hidup,
Dengan pro dan kontra yang masih ada.
Segala pertentangan hati yang masih eksis.
Namun itu manusiawi ... Alami.
Siapapun tak pernah bisa melihat dirinya sendiri secara transparan.
Bagaimanapun juga ... Akal sehat menjadi penanda manusia dengan derajat tingginya.
Dan itu adalah proses !

Kering ....

 Tahun 2007,

Kering ...
Ketidakpatuhan atas segala kebaikan-kebaikan yang telah menjadi doktrin dalam sejarah hidup manusia, membuat  apa yang tampak menjadi terkesan sia-sia.
Akibatnya, kesalahan dan dosa terlihat sebagai keindahan yang disengaja.
Cinta yang dirasa pun menjadi kering ...

Aku tak mencintaimu,
Tapi tampaknya aku mencintaimu.
Sejarah mengajarkan cerita-cerita sendu nan pilu yang menuntut revolusi kehidupan.
Namun doktrin itu seketika menjadi sama saja,
ketika aku untuk kesekian kalinya mengecap paradoks-paradoks realita yang pada akhirnya menawarkan kekeringan.

Aku menawarkan kemandirian yang pantas bagiku,
Tapi dikehidupan sekitar tak ada catatan-catatan itu.
Aku lelah dengan idealisme-idealisme yang tak pandai bersekutu dengan realita yang tersedia.
Dan pada akhirnya, seorang manusia menjadi muak dengan segala kenikmatan yang sudah menjadi stigma sepanjang hidupnya.

Minggu, 21 Februari 2010

Dancing Fountain ; Hiburan Yang Murah


Pernah jalan-jalan ke Monas pada Sabtu dan Minggu malam ? Mungkin sebagian besar anak muda Jakarta sudah melupakan tempat itu. Café, Mall, Twentyone, atau tempat nongkrong lainnya masih banyak yang lebih menarik sehingga para anak gaul ini memilih untuk menghabiskan waktu disana. Tapi seandainya mereka mau mengunjungi Monas pada waktu-waktu tersebut, sekali saja, mungkin mereka akan berpendapat lain. Well, perhaps
Saya tidak akan berkata seperti ini jika saya belum pernah kesana. Awal tahun lalu tepatnya. Mendengar kata ‘Monas’ memang sudah menjadi hal biasa, begitupun halnya saya. Tetapi seorang teman merekomendasikan ‘Monas’ saat dia tahu saya sedang jenuh dengan rutinitas biasanya. “Ada air mancur menari lho disanaBelum pernah liat kan?”,  katanya. Dan saya pun menjawab dengan senyum lega, “Hmm, boleh juga”.
Jadilah kami kesana. Setelah sekian lama tidak masuk kedalam lingkungan Monas dan ketika kembali lagi ada perasaan yang berbeda disana. Mungkin memang benar, perasaan terbiasa dengan suasana glamour ataupun tempat-tempat yang cozy dengan lampu-lampu mewah, musik lembut yang menggoda, serta aroma makanan lezat, membuat saya dan sebagian orang terhipnotis dengan pesonanya. Tetapi saat itu, ketika saya melangkahkan kaki dalam pekarangan Monas, saya merasa benar-benar … Tenang.
Pukul 19.00.
Pertunjukkan air mancur menari pun dimulai. Pemandangan yang sangat baru bagi saya. Pada dasarnya saya sangat menyukai pantai, laut, ombak, air terjun, kolam renang, dan segalanya tentang air. Dan air mancur ? saya baru saja menyukai itu. Dikemas dengan alunan lagu tradisional (Dangdut dan lagu Betawi) dan tembakan cahaya berwarna warni yang berasal dari proyektor dalam ruang khusus bawah tanah. Air mancur menari mengikuti alunan lagu. Gerakan yang lincah dan semakin bersemangat ketika diiringi dengan lagu dangdut. Hmm, saya bukan penggemar dangdut, namun menyaksikan pertunjukkan itu cukup membuat saya tersenyum-senyum. Tapi tidak serta merta membuat saya beralih menyukai musik dangdut tentunya.
Hiburan ini cukup menyenangkan, pikirku. Suasana yang sangat bersahabat karena ternyata setelah saya perhatikan disekeliling sebagian besar pengunjung adalah keluarga yg cukup komplit yang sedang piknik di rerumputan. Pedagang makanan keliling serta pedagang mainan anak-anak membuat tempat itu semakin ramai saja. Tapi tak masalah, selama tak ada pengamen disana. Dan hey … Memang tak ada satupun pengamen disana! Ha ha … Saya suka sekali. Dan yang paling penting adalah … Hiburan ini gratis.
Pertunjukkan itu hanya berlangsung selama kurang lebih 15 menit dan diulangi lagi persis di pukul 20.00. Well, cukup lega menyaksikan itu. Dan tak ada salahnya jika kapan-kapan berkunjung kesana lagi. Gratis. Dan tak hanya ingin melihat air mancur menari, sekedar berjalan santai dan duduk menikmati malam bisa sejenak membuat saya cukup rileks. Tak hanya kalangan menengah ke bawah saja lho yang ada, tetapi saya memperhatikan beberapa keluarga dari kalangan atas pun tak sungkan datang kesana. Hiburan gratis ditengah kota metropolitan Jakarta.
Then you know what? Salah satu Mall besar yang ada di pusat bisnis Jakarta pertengahan tahun lalu membuat design air mancur menari di bagian lobi-nya. Manager operasionalnya mengakui bahwa air mancur menari itu HANYA satu-satunya yang ada di Indonesia. What ?! Hmm, dimaklumi. Mungkin saja ia belum pernah mengunjungi Monas. Atau mungkin juga ia tak pernah mendengar ada hiburan yang sama di Monas. Atau mungkin juga ia tak punya teman-teman yang tertarik untuk datang ke Monas sehingga ia tak mendapat info apapun. Atau … strategi market untuk membuat rating naik apalagi mayoritas orang yang tinggal di Jakarta lebih senang mencuci mata di Mall. Tetapi akan yang menjadi pemikiranku ialah akan lebih baik jika dancing fountain diliput langsung dari Monas. It’s simple, jika hiburan itu di informasikan kepada warga Jakarta, hal itu pasti akan mengangkat citra Monas kembali menjadi tempat hiburan keluarga yang menyenangkan. Dulu Monas kehilangan citra-nya ketika tempat itu dijadikan arena mesum dan kriminalitas. Tetapi dengan adanya hiburan tersebut dan dipublikasikan lebih luas, saya pikir akan sangat membantu menjadikan Monas icon kota Jakarta yang tak pernah mati dari masa ke masa. Dan perlu diketahui, keamanan Monas sekarang ini sudah dikelola dengan baik. Jadi, mulailah menjadikan Monas sebagai salah satu daftar kalian untuk bersantai dengan keluarga. It’ll be fun !